asiarcseldyastriliaadheanti

Biografi Interview : Roy Marten

Posted on: July 3, 2011

 

Seldy

Bagaimana anda mengembangkan ide akting dalam memainkan suatu peran?

 

Roy Marten

Awalnya saya membaca scenario, membaca keseluruhan inti cerita dan peran saya apa, peran ini sifatnya, wataknya seperti apa, latar belakang kehidupannya, dan pendidikannya baru setelah membaca keseluruhan saya mengmpretasikan bagaimana nanti saya memainkan tokoh ini.

 

Seldy

Apakah setiap memainkan suatu peran anda harus memiliki konsep?

 

Roy Marten

Pasti ada, karna sebelum saya memerankan suatu tokoh pasti akan ada semacam reading bersama sutradara dan bersama pemain yang lain agar dari reading itu saya bisa membuat konsep bagaimana intonasi suara saya dan pergerakan tubuh saya yang telah diatur oleh sutradara.

 

Seldy

Pernah tidak anda merasa kesulitan untuk memahami suatu ide cerita atau scenario dalam suatu film dan sinetron?

 

Roy Marten

Setiap mendapat peran atau tokoh dalam suatu film dan sinetron pasti akan mendapat kesulitan, seperti mendapat tirai dalam berakting. Kesulitan itu akan timbul dimana saat saya tidak bisa masuk dalam peran atau tokoh tersebut. Dari sana saya berusaha peran atau tokoh tersebut masuk dalam diri pribadi saya sehari – hari.

 

Seldy

Menurut anda peran apa yang sulit dilakukan dalam berakting?

 

Roy Marten

Menurut saya peran yang sulit adalah peran yang datar – datar saja yang hanya menangis, orang lain dan sebagainya, justru peran antagonis atau jahat itu yang tidak sulit diperankan dalam berakting karna setiap orang pasti ada sisi antagonisnya.

 

Seldy

Apa alas an anda memilih beralih kedunia akting dan meninggalkan profesi modeling yang sebelumnya anda geluti?

 

Roy Marten

Sebetulnya bukan meninggalkan dunia model atau pragawan, pada saat itu saya ikut modeling hanya sebagai batu loncatan saya agar bisa menjadi orang terkenal dan bisa bermain film. Cara saya saat itu setelah menang lomba modeling di salatiga, saya pergi ke Jakarta tidak tahu mau kemana dan tidak punya uang. Di saat itu saya bertemu seorang produser dan diajak untuk bermain film di saat itu saya mulai keasikan bermain film padahal saat itu film Indonesia belum buming seperti sekarang ini.

 

Seldy

Apakah pernah dari sekian banyak film dan sinetron yang anda perankan akting apa yang anda merasa tidak puas?

 

Roy Marten

Celakanya saya selalu tidak puas dalam setiap berakting, kenapa? Karna dalam memerankan suatu tokoh atau peran dalam suatu film dan sinetron pasti saat penayangan dalam hati berbicara kenapa saat di scene ini saya engga beradegan seperti ini, tidak menaikan suara dan atau kenapa di sini terlalu berlebihan akting saya. Ya begitulah saya selalu tidak puas dalam berakting.

 

Seldy

Dalam film dan sinetron peran apakah yang membuat anda merasa tertantang?

 

Roy Marten

Peran antagonislah yang saya suka, karna dalam peran antagonis saya dapat mengimpretasikan akting saya dengan total seperti film saya “Cintaku di Kampus Biru” dan sinetron “Kembang – Kembang Plastik” dalam film dan sinetron itulah saya merasa tertantang sekali dan dalam film dan sinetron itu saya mendapat suatu penghargaan.

 

Seldy

Menjadi model, aktor dan pernah menjadi produser juga, apakah pernah anda ingin menjadi seorang sutradara?

 

Roy Marten

Pernah saya berfikir untuk menjadi sutradara akan tetapi buat saat ini belum terlaksana, karena sekarang ini seorang sutradara hanya menjadi boneka produserlah yang berperan dalam semua adegan dalam sebuah scenario.

 

Seldy

Sudah banyak penghargaan yang anda dapat selama berkarir, penghargaan apa yang membuat anda berkesan?

 

Roy Marten

Semua penghargaan menurut saya berkesan, akan tetapi awalnya saya berkesan saat mendapat piala “Djamaludin Malik FFI 1997 (Pemain Muda Penuh Harapan)”.

 

Seldy

Apa kesulitan jadi seorang produser?

 

Roy Marten

Awalnya saya hanya seorang pemain saya merasa itu tidak begitu sulit, akan tetapi saat menjadi seorang produser banyak persoalan yang harus saya perhatikan seperti tingkah laku pemain dan crew di lapangan yang sebelumnya tidak pernah saya rasakan sebagai pemain.

 

Seldy

Apa perbedaan dari segi peran dalam film dan sinetron?

 

Roy Marten

Tentu banyak perbedaannya. Saya menafsirkan film itu sebagai makan besar dan sinetron makanan jangfood. Kalau dalam film kita harus melakukan suatu peran dengan kompleks karna dalam segi penggambaran dia membutuhkan Capture, Blocking, glaster dan lebih Prima. Dibandingkan dengan sinetron biasanya hanya menggunakan teknik Close Up dan Medium Close Up, tidak perlu glister, akting lebih detail dan tidak perlu blocking karna sinetron akan tetap di situ ada unsur masing – masing. Sangat jauh dengan film.

 

Seldy

Kalau anda disuruh memilih antara sinetron atau film, anda lebih memilih mana?

 

Roy Marten

Kalau melihat dari segi materinya saya lebih memilih sinetron karna striping materi jalan terus hahaha… akan tetapi kepuasan dalam berakting jauh lebih puas dalam film karna saya sebagai pemain harus bermain secara detail dan kompleks agar penonton puas lain hal dengan sinetron yang setiap 6 menit sekali dipotong untuk iklan.

 

Seldy

Menurut anda bagaimana perfilman Indonesia saat ini?

 

Roy Marten

Perfilman saat ini sama saja dengan film 50 tahun yang lalu hahaha… yang selalu menceritakan masa lalu, percintaan, problem yang klasik. Film Indonesia pun selalu jalan di tempat dengan pertanyaan yang sama jawaban yang sama pula. Contohnya pada zaman saya terdapat banyak novel yang di gemari pembacanya saat melihat judul novel tersebut setelah novel mendapat respon yang baik dari pembaca baru cerita tersebut di angkat ke layar kaca, berbeda dengan zaman sekarang yang judul novel selalu memakai bahasa inggris yang menurut saya masih monoton film – film dan ceritanya yang ada di Indonesia sekarang ini.

 

Seldy

Apa harapan anda untuk perfilman Indonesia saat ini?

 

Roy Marten    

Tidak ada sebuah kepinteran pasti ada sekolah, tidak mungkin tanpa human inposible orang indonesia bisa membuat film. Bangsa kita ini, bangsa yang pengen cepet atau instan tidak memerlukan proses dan pembelajaran saya kira kita belom siap untuk membuat film seperti film luar yang meledak di Negara lain. Seharusnya zaman sekarang ini lebih pinter dari zaman saya yang harus sekolah harus belajar tentang film. Kemudian adalah penulis scenario saat ini tidak seperti zaman saya ada Sunan Jaya.

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Calendar

July 2011
M T W T F S S
« Jun    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

My Twitter

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

%d bloggers like this: