asiarcseldyastriliaadheanti

analysis: tornado-shaped cloud

Posted on: April 20, 2011

analysis:

Sebuah keganjilan yang kasat mata meliputi langit kota Bam, Iran, di penghujung 2003. Awan panjang misterius berbentuk tornado itulah pemicunya. Menjulur dari kaki langit Bam, membelah angkasa sepanjang beberapa kilometer, sang awan putih menebar ketidaklaziman sekaligus tanya: ini pertanda apa?

Pada 26 Desember yang naas itulah tanya itu segera terjawab. Dari bawah tanah, kulit Bumi berguncang sehebat 6,3 Skala Richter menggoyang kota kuno itu, meremukkan 60 persen bangunan bersejarah, dan membunuh lebih dari 4.000 orang. Awan putih itu ternyata pertanda petaka gempa.

Di Yogyakarta, 12 Juli lalu, awan misterius seperti di Bam muncul dari kaki langit Bantul. Di Ibu Kota Jakarta, awal pekan ini, warga ribut melihat awan aneh berbentuk tornado yang melintang. Betulkah awan tornado pertanda gempa?

Dr Sarmoko Saroso, peneliti senior Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), mengatakan studi tentang awan gempa terhitung anyar di kalangan seismologis. Fenomena menarik itu baru dibedah peneliti Amerika Serikat, Jepang, dan Cina sepanjang satu dekade terakhir. Dari hasil riset satu dasawarasa, mereka sepakat satu hal: prediksi gempa lewat awan untuk sementara belum boleh bebas dikonsumsi publik.

Namun, para ilmuwan itu juga sepakat satu hal. ”Betul bahwa gempa bisa diprediksi lewat awan. Ada argumen ilmiah untuk itu,” ungkap Sarmoko, yang sudah 30 tahun menjadi peneliti LAPAN, Kamis (3/8), kepada Republika.

Ia memberi contoh gempa hebat di Bam, Iran pada 2003 yang didahului kemunculan awan misterius berbentuk tornado ke arah barat 4-5 hari menjelang lindu. Termasuk kemunculan awan putih seperti puting beliung di langit kota Kobe, Jepang, sebelum gempa besar pada Januari 1995. Mengapa awan sekonyong-konyong memperlihatkan corak aneh?

Uap air tanah ke angkasa
Menurut Sarmoko, awan misterius berbentuk tornado itu bukanlah awan metereologis yang tercipta akibat dorongan angin atau aktivitas iklim biasa. Awan ini juga tidak terbentuk akibat perubahan medan elektromagnetik di udara akibat pergeseran kerak bumi, seperti yang santer diberitakan media massa.

Namun, ”Awan misterius itu tercipta akibat pergumulan uap air panas yang muncul dari rekahan permukaan Bumi dengan udara dingin di angkasa,” jelas Sarwoko. Uap air panas itu melesak dari tanah sebagai dampak aktivitas seismik tingkat tinggi di perut Bumi. Uap air itu juga bertekanan tinggi.

Ia menjelaskan pergeseran hebat bebatuan di perut Bumi sebelum gempa (stress mechanic), mendorong terciptanya rekahan-rekahan di lapisan di atasnya hingga ke permukaan. Rekahan ini lantas melahirkan tekanan yang mendorong air tanah di kulit Bumi melesak ke atas.

Gesekan raksasa antarbatuan ini, jelas Sarmoko, juga mendorong timbulnya temperatur tinggi di area tersebut. Akibatnya, air tanah yang menerobos ke atas pun ikut memperoleh terpaan panas, mendidih, dan berubah menjadi uap air. Uap air lantas menyelusup lewat rekahan di permukaan Bumi, terbang ke angkasa.

Di angkasa ia bertemu dengan udara dingin (cool air), mengalami kondensasi, dan –melalui proses fisika-kimia– menciptakan bentukan awan seperti tornado yang akrab disebut awan gempa. ”Karena itulah, jika dilihat dari satelit, setiap awan gempa yang menjulang di angkasa dipastikan memiliki pangkal (kaki) yang bersumber tepat di titik episenter gempa di tanah,” jelas dia.

Secara umum awan gempa ini berbentuk garis lurus vertikal di angkasa, seperti tornado, bulu ayam, atau lentera. Menurut Sarmoko, fenomena ini membuka peluang prediksi gempa yang sebelumnya disinyalir mustahil dilakukan. Paling tidak, 50 awan gempa sempat terbit di Amerika Serikat dan pemerintah setempat mensinyalir sebagai pertanda lindu. Tiga puluh prediksi di antaranya terbukti benar.

Sayangnya, awan gempa ini tak selalu muncul setiap kali bakal terjadi gempa. Pasalnya, kata Sarmoko, uap air panas yang terbit dari episenter di kulit Bumi tak selalu menemukan cool air di angkasa yang memberi peluang terjadinya proses kondensasi.

Harus diklarifikasi satelit
Sarmoko tak menafikan kenyataan bahwa kerap kali terjadi awan-awan mirip awan gempa (berbentuk tornado atau berupa garis lurus) di angkasa. Ini berpotensi menciptakan ketidakpastian dan keresahan masyarakat seperti yang belakangan terjadi. Soal awan tornado di Bantul, Badan Metereologi dan Geofisika (BMG) menegaskan bahwa itu awan cirrus yang kerap muncul saat musim kemarau.

Namun, Sarmoko menegaskan awan gempa memiliki sejumlah kriteria prinsipil yang harus dipenuhi. Pertama, ia harus muncul paling sebentar sehari penuh atau 1×24 jam. ”Jika cuma satu atau dua jam saja, amat mungkin itu bukan awan gempa, meski bentuknya memang mirip,” kata dia.

Meski begitu, tempo penampakan di angkasa bukan jaminan bahwa itu benar-benar awan gempa. ”Pembuktian final harus melalui satelit,” papar dia lagi. Cuma lewat satelit, kata Sarmoko, dapat diungkap secara terang benderang apakah awan berbentuk tornado itu memiliki pangkal tepat di titik episenter gempa di tanah. Atau ia cuma awan biasa yang mirip tornado.

Kamis (3/8) kemarin, Sarmoko tengah berada di pusat satelit LAPAN di Pekayon, Jakarta Timur. Ia melakukan klarifikasi satelit guna memastikan status awan gempa, menindaklanjuti informasi dari masyarakat soal penampakan awan tornado di Jakarta, Bandung, dan Bantul. Jika benar itu awan gempa, kapan gempa bakal terjadi?

Kata Sarmoko, gempa bisa terjadi 4-5 hari setelah penampakan awan gempa. ”Bisa juga hingga 130 hari kemudian,” papar dia lagi, menuturkan pengalaman yang terjadi di Jepang, AS, dan Cina.

Sarmoko yakin pemantauan satelit awan gempa merupakan terobosan besar untuk mitigasi bencana gempa. Sayangnya, Indonesia lumayan ketinggalan di situ. Kata dia, satelit LAPAN hanya dapat melakukan pengamatan pergerakan awan maksimal tiga kali sehari alias tidak bisa kontinyu. Dikhawatirkan, awan yang diduga awan gempa tak dapat termonitor maksimal.
Selain itu, ada kesepakatan di kalangan ilmuwan sedunia agar tidak menggunakan awan gempa sebagai prediksi gempa untuk konsumsi publik. Hingga saat ini, informasi penting itu sebatas digunakan di komunitas internal ilmuwan meski sudah dapat dibuktikan kebenarannya.

Fakta Angka
1 x 24 jam
Kemunculan awan seperti angin tornado yang menandakan akan munculnya gempa bumi.
Anomali Elektromagnetik di Aceh dan Nias
Tak keliru jika geliat perut Bumi menggenjot aktivitas gelombang elektromagnetik (EM) di udara. Sebagai bukti, LAPAN menemukan adanya lonjakan sinyal ultra lower frequency (ULF) atau gelombang EM berfrekuensi rendah menjelang gempa hebat di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dan Nias.

Anomali itu terekam oleh magnetometer milik LAPAN di Kototabang, Bukit Tinggi, Sumatra Barat, beberapa pekan sebelum gempa 8 SR dan 9 SR di pantai barat Sumatra. ULF adalah gelombang EM berfrekuensi kecil, 3-30 Hertz. Lonjakan ULF merupakan indikator soal adanya aktivitas perubahan medan elektromagnetik luar biasa di udara akibat perubahan medan listrik.

Perubahan medan listrik, kata Sarmoko, seringkali dipicu oleh aktivitas seismik tingkat tinggi di perut Bumi akibat gesekan antar lempeng. Magnetometer dapat mengukur besaran perubahan ini. Anomali, berupa lonjakan, kerap kali menjadi petunjuk bernas soal bakal terjadinya gempa.

Lonjakan gelombang EM ini pula yang diyakini memicu kegelisahan hewan-hewan liar, yang membuat mereka berhamburan dari gunung dan hutan sesaat menjelang gempa hebat. Tingkah aneh para hewan ini sejak lama diyakini sebagai pertanda gempa atau gunung meletus.

Jepang secara serius terjun di riset soal gelombang EM. Beberapa gempa besar di Jepang, kata Sarmoko, terbukti diiringi anomali gelombang EM. Inilah ‘celah’ yang ditemukan para ahli untuk mampu meramal gempa, di tengah angin pesismisme saat ini soal belum tersedianya teknologi untuk prediksi.

Sarmoko termasuk yang menenggelamkan diri pada riset ini. Bekerja sama dengan Jepang, tiga institusi; LAPAN, LIPI, dan BMG; melakukan joint-research khusus soal gelombang EM gempa hingga tahun 2008. Lewat riset mendalam, diharapkan anomali gelombang EM benar-benar dapat dimanfaatkan untuk keperluan mitigasi, bukan sekadar informasi untuk para peneliti.

Saat ini Indonesia memiliki sejumlah magnetometer untuk mengukur anomali gelombang EM, yakni di Bukit Tinggi (Sumbar), Medan (Sumut), Pare-Pare (Sulsel), Pontianak (Kalbar), dan Kupang (NTT). Sayangnya semuanya terpusat di luar Jawa. Satu-satunya magnetometer di Jawa, yakni di Mojokerto, Jatim, raib dicuri orang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Calendar

April 2011
M T W T F S S
« Mar   May »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

My Twitter

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

%d bloggers like this: