asiarcseldyastriliaadheanti

 

Seldy

Bagaimana anda mengembangkan ide akting dalam memainkan suatu peran?

 

Roy Marten

Awalnya saya membaca scenario, membaca keseluruhan inti cerita dan peran saya apa, peran ini sifatnya, wataknya seperti apa, latar belakang kehidupannya, dan pendidikannya baru setelah membaca keseluruhan saya mengmpretasikan bagaimana nanti saya memainkan tokoh ini.

 

Seldy

Apakah setiap memainkan suatu peran anda harus memiliki konsep?

 

Roy Marten

Pasti ada, karna sebelum saya memerankan suatu tokoh pasti akan ada semacam reading bersama sutradara dan bersama pemain yang lain agar dari reading itu saya bisa membuat konsep bagaimana intonasi suara saya dan pergerakan tubuh saya yang telah diatur oleh sutradara.

 

Seldy

Pernah tidak anda merasa kesulitan untuk memahami suatu ide cerita atau scenario dalam suatu film dan sinetron?

 

Roy Marten

Setiap mendapat peran atau tokoh dalam suatu film dan sinetron pasti akan mendapat kesulitan, seperti mendapat tirai dalam berakting. Kesulitan itu akan timbul dimana saat saya tidak bisa masuk dalam peran atau tokoh tersebut. Dari sana saya berusaha peran atau tokoh tersebut masuk dalam diri pribadi saya sehari – hari.

 

Seldy

Menurut anda peran apa yang sulit dilakukan dalam berakting?

 

Roy Marten

Menurut saya peran yang sulit adalah peran yang datar – datar saja yang hanya menangis, orang lain dan sebagainya, justru peran antagonis atau jahat itu yang tidak sulit diperankan dalam berakting karna setiap orang pasti ada sisi antagonisnya.

 

Seldy

Apa alas an anda memilih beralih kedunia akting dan meninggalkan profesi modeling yang sebelumnya anda geluti?

 

Roy Marten

Sebetulnya bukan meninggalkan dunia model atau pragawan, pada saat itu saya ikut modeling hanya sebagai batu loncatan saya agar bisa menjadi orang terkenal dan bisa bermain film. Cara saya saat itu setelah menang lomba modeling di salatiga, saya pergi ke Jakarta tidak tahu mau kemana dan tidak punya uang. Di saat itu saya bertemu seorang produser dan diajak untuk bermain film di saat itu saya mulai keasikan bermain film padahal saat itu film Indonesia belum buming seperti sekarang ini.

 

Seldy

Apakah pernah dari sekian banyak film dan sinetron yang anda perankan akting apa yang anda merasa tidak puas?

 

Roy Marten

Celakanya saya selalu tidak puas dalam setiap berakting, kenapa? Karna dalam memerankan suatu tokoh atau peran dalam suatu film dan sinetron pasti saat penayangan dalam hati berbicara kenapa saat di scene ini saya engga beradegan seperti ini, tidak menaikan suara dan atau kenapa di sini terlalu berlebihan akting saya. Ya begitulah saya selalu tidak puas dalam berakting.

 

Seldy

Dalam film dan sinetron peran apakah yang membuat anda merasa tertantang?

 

Roy Marten

Peran antagonislah yang saya suka, karna dalam peran antagonis saya dapat mengimpretasikan akting saya dengan total seperti film saya “Cintaku di Kampus Biru” dan sinetron “Kembang – Kembang Plastik” dalam film dan sinetron itulah saya merasa tertantang sekali dan dalam film dan sinetron itu saya mendapat suatu penghargaan.

 

Seldy

Menjadi model, aktor dan pernah menjadi produser juga, apakah pernah anda ingin menjadi seorang sutradara?

 

Roy Marten

Pernah saya berfikir untuk menjadi sutradara akan tetapi buat saat ini belum terlaksana, karena sekarang ini seorang sutradara hanya menjadi boneka produserlah yang berperan dalam semua adegan dalam sebuah scenario.

 

Seldy

Sudah banyak penghargaan yang anda dapat selama berkarir, penghargaan apa yang membuat anda berkesan?

 

Roy Marten

Semua penghargaan menurut saya berkesan, akan tetapi awalnya saya berkesan saat mendapat piala “Djamaludin Malik FFI 1997 (Pemain Muda Penuh Harapan)”.

 

Seldy

Apa kesulitan jadi seorang produser?

 

Roy Marten

Awalnya saya hanya seorang pemain saya merasa itu tidak begitu sulit, akan tetapi saat menjadi seorang produser banyak persoalan yang harus saya perhatikan seperti tingkah laku pemain dan crew di lapangan yang sebelumnya tidak pernah saya rasakan sebagai pemain.

 

Seldy

Apa perbedaan dari segi peran dalam film dan sinetron?

 

Roy Marten

Tentu banyak perbedaannya. Saya menafsirkan film itu sebagai makan besar dan sinetron makanan jangfood. Kalau dalam film kita harus melakukan suatu peran dengan kompleks karna dalam segi penggambaran dia membutuhkan Capture, Blocking, glaster dan lebih Prima. Dibandingkan dengan sinetron biasanya hanya menggunakan teknik Close Up dan Medium Close Up, tidak perlu glister, akting lebih detail dan tidak perlu blocking karna sinetron akan tetap di situ ada unsur masing – masing. Sangat jauh dengan film.

 

Seldy

Kalau anda disuruh memilih antara sinetron atau film, anda lebih memilih mana?

 

Roy Marten

Kalau melihat dari segi materinya saya lebih memilih sinetron karna striping materi jalan terus hahaha… akan tetapi kepuasan dalam berakting jauh lebih puas dalam film karna saya sebagai pemain harus bermain secara detail dan kompleks agar penonton puas lain hal dengan sinetron yang setiap 6 menit sekali dipotong untuk iklan.

 

Seldy

Menurut anda bagaimana perfilman Indonesia saat ini?

 

Roy Marten

Perfilman saat ini sama saja dengan film 50 tahun yang lalu hahaha… yang selalu menceritakan masa lalu, percintaan, problem yang klasik. Film Indonesia pun selalu jalan di tempat dengan pertanyaan yang sama jawaban yang sama pula. Contohnya pada zaman saya terdapat banyak novel yang di gemari pembacanya saat melihat judul novel tersebut setelah novel mendapat respon yang baik dari pembaca baru cerita tersebut di angkat ke layar kaca, berbeda dengan zaman sekarang yang judul novel selalu memakai bahasa inggris yang menurut saya masih monoton film – film dan ceritanya yang ada di Indonesia sekarang ini.

 

Seldy

Apa harapan anda untuk perfilman Indonesia saat ini?

 

Roy Marten    

Tidak ada sebuah kepinteran pasti ada sekolah, tidak mungkin tanpa human inposible orang indonesia bisa membuat film. Bangsa kita ini, bangsa yang pengen cepet atau instan tidak memerlukan proses dan pembelajaran saya kira kita belom siap untuk membuat film seperti film luar yang meledak di Negara lain. Seharusnya zaman sekarang ini lebih pinter dari zaman saya yang harus sekolah harus belajar tentang film. Kemudian adalah penulis scenario saat ini tidak seperti zaman saya ada Sunan Jaya.

 

 

 

 

analisis :

A pyrocumulus, or literally fire cloud, is a dense cumuliform cloud associated with fire or volcanic activity.

A pyrocumulus is similar dynamically in some ways to a firestorm, and the two phenomena may occur in conjunction with each other. However, one may occur without the other.

A pyrocumulus cloud is produced by the intense heating of the air from the surface. The intense heat induces convection which causes the air mass to rise to a point of stability, usually in the presence of moisture. Phenomena such as volcanic eruptions, forest fires, and occasionally industrial activities can induce formation of this cloud. The detonation of a nuclear weapon in the atmosphere will also produce a pyrocumulus in the form of a mushroom cloud which is made by the same mechanism. The presence of a low level jet stream can enhance its formation. Condensation of ambient moisture (moisture already present in the atmosphere) as well as moisture evaporated from burnt vegetation or volcanic outgassing occurs readily on particles of ash.

Pyrocumuli contain severe turbulence which also results in strong gusts at the surface which can exacerbate a large conflagration. A large pyrocumulus, particularly one associated with a volcanic eruption, may also produce lightning. This is a process not fully understood as of yet, but is probably in some way associated with charge separation induced by severe turbulence, and perhaps, by the nature of the particles of ash in the cloud. Large pyrocumuli can contain temperatures well below freezing, and the electrostatic properties of any ice that forms may also play a role. A pyrocumulus which produces lightning is actually a type of cumulonimbus, a thundercloud and is called pyrocumulonimbus. The World Meteorological Organization doesn’t recognize pyrocumulus or pyrocumulonimbus as distinct cloud types, but rather classifies them respectively as cumulus (mediocris or congestus) and cumulonimbus.

Like volcanic eruptions, some fires grow large enough to make their own weather with the heat being released acting like convection. Witness this neat time lapse in HD showing the “Station” fire in the Angeles National Forest.A pyrocumulus cloud is produced by the intense heating of the air from the surface. The intense heat induces convection which causes the air mass to rise to a point of stability, usually in the presence of moisture. Phenomena such as volcanic eruptions, forest fires, and occasionally industrial activities can induce formation of this cloud. The detonation of a nuclear weapon in the atmosphere will also produce a pyrocumulus in the form of a mushroom cloud which is made by the same mechanism. The presence of a low level jet stream can enhance its formation. Condensation of ambient moisture (moisture already present in the atmosphere) as well as moisture evaporated from burnt vegetation or volcanic outgassing occurs readily on particles of ash.Pyrocumuli contain severe turbulence which also results in strong gusts at the surface which can exacerbate a large conflagration. A large pyrocumulus, particularly one associated with a volcanic eruption, may also produce lightning. This is a process not fully understood as of yet, but is probably in some way associated with charge separation induced by severe turbulence, and perhaps, by the nature of the particles of ash in the cloud. Large pyrocumuli can contain temperatures well below freezing, and the electrostatic properties of any ice that forms may also play a role. A pyrocumulus which produces lightning is actually a type of cumulonimbus, a thundercloud and is called pyrocumulonimbus.

 

Referensi : http://en.wikipedia.org/wiki/Pyrocumulus_cloud dan http://wattsupwiththat.com/2009/09/02/time-lapse-pyrocumulus-for-the-la-wildfire/

analisis :

A fire whirl, colloquially fire devil or fire tornado, is a rarely captured phenomenon in which a fire, under certain conditions (depending on air temperature and currents), acquires a vertical vorticity and forms a whirl, or a tornado-like vertically oriented rotating column of air. Fire whirls may be whirlwinds separated from the flames, either within the burn area or outside it, or a vortex of flame, itself.

An extreme example is the 1923 Great Kantō earthquake in Japan which ignited a large city-sized firestorm and produced a gigantic fire whirl that killed 38,000 in fifteen minutes in the Hifukusho-Ato region of  Tokyo. Another example is the numerous large fire whirls (some tornadic) that developed after lightning struck an oil storage facility near San Luis Obispo, California on April 7, 1926, several of which produced significant structural damage well away from the fire, killing two. Thousands of whirlwinds were produced by the four-day-long firestorm coincident with conditions that produced severe thunderstorms, in which the larger fire whirls carried debris 5 kilometers away.

Most of the largest fire tornados are spawned from wildfires. They form when a warm updraft and convergence from the wildfire are present. They are usually 10-50 meters tall, a few meters wide, and last only a few minutes. However, some can be more than a kilometer tall, contain winds over 160 km/h, and persist for more than 20 minutes.

Fire whirls can uproot trees up to 15 metres (49 ft) tall. These can also aid the ‘spotting’ ability of wildfires to propagate and start new fires.

Visually impressive fire whirls may be encountered during dry wind gusts at the annual Burning Man festival in Nevada’s Black Rock Desert, late on Saturday or Sunday evening during the burning of The Man or Temple, respectively.

A fire whirl, also known as a fire tornado or fire devil, is a rare phenomenon in which fire forms a tornado-like vortex of flames. Fire whirls can be formed in one of two ways: when a tornado spins too closely to a forest fire or when a heavy concentration of heat is generated in a small area. Typically, they’re spawned from wildfires. Like tornadoes, fire whirls vary in size and duration; however, they typically last no more than a few minutes.

Although it’s rare, this type of weather is extremely dangerous. In 1923, a fire whirl emerged during Japan’s Great Kanto Earthquake and killed 38,000 people.

A fire whirl, colloquially fire devil or fire tornado, is a rarely captured phenomenon in which a fire, under certain conditions (depending on air temperature and currents), acquires a vertical vorticity and forms a whirl, or a tornado-like vertically oriented rotating column of air. Fire whirls may be whirlwinds separated from the flames, either within the burn area or outside it, or a vortex of flame, itself.

An extreme example is the 1923 Great Kantō earthquake in Japan which ignited a large city-sized firestorm and produced a gigantic fire whirl that killed 38,000 in fifteen minutes in the Hifukusho-Ato region of Tokyo. Another example is the numerous large fire whirls (some tornadic) that developed after lightning struck an oil storage facility near San Luis Obispo, California on April 7, 1926, several of which produced significant structural damage well away from the fire, killing two. Thousands of whirlwinds were produced by the four-day-long firestorm coincident with conditions that produced severe thunderstorms, in which the larger fire whirls carried debris 5 kilometers away.

Most of the largest fire tornados are spawned from wildfires. They form when a warm updraft and convergence from the wildfire are present. They are usually 10-50 meters tall, a few meters wide, and last only a few minutes. However, some can be more than a kilometer tall, contain winds over 160 km/h, and persist for more than 20 minutes.

 

Referensi : http://en.wikipedia.org/wiki/Fire_whirl , http://www.mnn.com/earth-matters/wilderness-resources/photos/worlds-weirdest-weather/fire-whirls dan http://mgnote07.wordpress.com/2011/05/29/fire-whirl/

 

analisis :

Mammatus, also known as mammatocumulus (meaning “mammary cloud” or “breast cloud”), is a meteorological term applied to a cellular pattern of pouches hanging underneath the base of a cloud. The name mammatus, derived from the Latin mamma (meaning “udder” or “breast”), refers to a resemblance between the characteristic shape of these clouds and the breast of a woman.

Mammatus are most often associated with the anvil cloud and also severe thunderstorms. They often extend from the base of a cumulonimbus, but may also be found under altocumulus, altostratus, stratocumulus, and cirrus clouds, as well as volcanic ash clouds.In the United States, sky gazers may be most familiar with the very distinct and more common cumulonimbus mammatus. When occurring in cumulonimbus, mammatus are often indicative of a particularly strong storm or maybe even a tornadic storm. Due to the intensely sheared environment in which mammatus form, aviators are strongly cautioned to avoid cumulonimbus with mammatus.

Mammatus may appear as smooth, ragged or lumpy lobes and may be opaque or semitransparent. Because mammatus occur as a grouping of lobes, the way they clump together can vary from an isolated cluster to a field of mamma that spread over hundreds of kilometers to being organized along a line, and may be composed of unequal or similarly-sized lobes. The individual mammatus lobe average diameters of 1–3 km and lengths on average of 0.5 km. A lobe can last an average of 10 minutes, but a whole cluster of mamma can range from 15 minutes to a few hours. They usually are composed of ice, but also can be a mixture of ice and liquid water or be composed of almost entirely liquid water.

Mammatus clouds are also known as mammatocumulus clouds and are a cellular pattern of pouches hanging underneath the base of a cloud. The name of the clouds refers to the fact that they resemble the breasts of a woman.

Mammatus clouds may be smooth or have ragged, lumpy lobes. These clouds can be opaque or semitransparent. Mammatus occur as a grouping of lobes, so the way they clump together can vary. Some can be an isolated cluster or a field of mammatus can spread over hundreds of kilometers. They can be organized in a line or a jagged slash across the sky composed of unequal or similarly-sized lobes. The average diameter of a lobe is 1–3km. A lobe usually lasts about10 minutes, but a cluster can remain up to a few hours. They usually are composed of ice, but can be a mixture of ice and liquid water or be composed entirely liquid water.

Mammatus clouds are associated with the anvil clouds that extend from a cumulonimbus most frequently, but they can be found under many other types of clouds and volcanic ash clouds. When these clouds occur with cumulonimbus, they are generally an indicator of a particularly strong storm or a possible tornado. Intense wind shear in cumulonimbus clouds that have mammatus make it dangerous for aircraft to enter these clouds.

Referensi : http://en.wikipedia.org/wiki/Mammatus_cloud dan http://www.universetoday.com/76267/mammatus-clouds/

 

analisis :

Aurora adalah fenomena pancaran cahaya yang menyala-nyala pada lapisan ionosfer dari sebuah planet sebagai akibat adanya interaksi antara medan magnetik yang dimiliki planet tersebut dengan partikel bermuatan yang dipancarkan oleh matahari (angin matahari).

Di bumi, aurora terjadi di daerah di sekitar kutub Utara dan kutub Selatan magnetiknya. Aurora yang terjadi di daerah sebelah Utara dikenal dengan nama Aurora Borealis (IPA /ɔˈɹɔɹə bɔɹiˈælɪs/), yang dinamai bersempena Dewi Fajar Rom, Aurora, dan nama Yunani untuk angin utara, Boreas. Ini karena di Eropa, aurora sering terlihat kemerah-merahan di ufuk utara seolah-olah matahari akan terbit dari arah tersebut. Aurora borealis selalu terjadi di antara September dan Oktober dan Maret dan April. Fenomena aurora di sebelah Selatan yang dikenal dengan Aurora Australis mempunyai sifat-sifat yang serupa.Tapi kadang-kadang aurora muncul di puncak gunung di iklim tropis.

Pada mitologi Romawi kuno, Aurora adalah Dewi Fajar yang muncul setiap hari dan terbang melintasi langit untuk menyambut terbitnya matahari. Profil Dewi Aurora juga dapat kita temukan pada tulisan hasil karya Shakespeare.

Sejak zaman dulu, telah banyak teori yang diajukan untuk menjelaskan fenomena ini dan sebagian teori kelihatannya sudah tidak relefan pada masa sekarang.
Benjamin Franklin berteori bahwa “Misteri Cahaya Utara” itu disebabkan oleh konsentrasi muatan listrik di daerah kutub yang didukung oleh salju dan uap air. Kristian Birkeland juga berteori bahwa Auroral Elektron terjadi dari sinar yang dipancarkan matahari, dan elektron tersebut dibimbing menuju kutub utara.

Aurora Borealis memang sering terjadi antara bulan Maret-April dan Agustus-September-Oktober. Aurora Borealis adalah fonemana pancaran cahaya yang terjadi di daerah utara atau kutub utara. Pada saat Aurora Borealis terjadi, seakan-akan matahari akan terbit dari sebelah utara.

Fenomena ini terjadi pada lapisan ionosfer bumi akibat medan magnetik, dan partikel yang dipancarkan matahari. Sumber energi utama dari aurora adalah angin matahari yang mengalir melewati Bumi. Magnetosfer dan angin matahari terdiri dari gas terionisasi yang menghantarkan listrik. Aurora yang terjadi tanggal 28 Agustus dan 2 September 1859 mungkin adalah yang paling spektakuler sepanjang sejarah. Aurora di Boston tanggal 2 September 1859 juga dimuat oleh New York Times.

Fenomena Aurora Borealis telah lama menarik perhatian para Ilmuwan. Andres Celcius, antara rentang tahun 1716 sd. 1732 mengamati Aurora Borealis dan menghasilkan sekitar 300 pengamatan yang dipublikasikannya. Celcius adalah seorang Professor Astronomi yang namanya diabadikan sebagai satuan pengukur suhu.

Penerima nobel asal Belanda bernama Pieter Zeeman mempublikasikan laporan tentang Aurora Borealis yang terlihat di Zonnemaire. Elias Loomis juga menerbitkan serangkaian laporan mengenai Aurora di American Journal of Science.

Aurora juga terjadi pada Planet lain dalam tata surya, misalnya Planet Uranus dan Neptunus. Jupiter dan Saturnus memiliki medan magnet yang lebih kuat dari Bumi dan memiliki sabuk radiasi yang besar. Teleskop Huble digunakan untuk menangkap terjadinya Aurora di planet lain.

Tgl. 14 Agustus 2004, Pesawat Mars Express mendeteksi terjadinya Aurora di planet Mars, para Ilmuwan mempelajari dengan memasukkan data-data yang dihasilkan Mars Global Surveyor, dimana daerah emisi berhubungan dengan suatu daerah yang memiliki medan magnet paling kuat, dan menunjukkan bahwa asal-usul emisi cahaya adalah aliran elektron.

Pada sebuah fenomena Aurora, satelit menangkap gambar Aurora yang terlihat seperti “cincin api”. Aurora-aurora jenis lain juga diamati dari luar angkasa, misalnya “Poleward Busur”, tapi tampaknya masih perlu penelitian lebih lanjut mengenai fenomena ini, mengingat fenomena ini sangat jarang akan terjadi.

Aurora dan arus terkait menghasilkan emisi radio sekitar 150 kHz, dikenal sebagai radiasi Auroral Kilometric yang ditemukan pada tahun 1972 dan dapat diamati dari luar angkasa. Masih banyak hal lain yang harus di teliti dan di pelajari menyangkut proses yang terjadi pada Aurora….
referensi : http://id.shvoong.com/exact-sciences/astronomy/1974267-aurora-borealis/ dan http://id.wikipedia.org/wiki/Aurora

analisis :

Agaknya fenomena alam aneh dan unik semakin banyak dijumpai terjadi dalam jagat raya ini, kadang bisa jadi terjadi tak jauh dari lingkungan kita, ada yang bisa merasionalkan namun banyak juga yang menganggapnya sebagai hal mistis atau ghaib yang susah diuraikan, bahkan ekstrimnya bila hal tersebut dianggap hal ghaib maka tidak jarang banyak orang memanfaatkannya sebagai tempat pemujaan ritual dan sejenisnya.

Belum lama ini ditemukan hal unik yang benar benar langka yaitu ada sebatang pohon pinang (jenis  palem) yang disalah satu bagiannya muncul mirip sekali dengan wajah manusia, terutama seperti bagian mulut dan hidung, dimana bentuk bibirnya benar-benar mirip bibir manusia umumnya. Yang unik lagi adalah bentuk wajah itu setiap harinya konon selalu berubah ubah.

Seperti dikutip ruanghati.com dari blog Anonkuncoro.com menceritakan lebih lanjut kejadian unik tersebut ada di kota Bau-Bau Sulawesi Tenggara sejak tanggal 21 September 2010 lalu. Sebuah pohon pinang muncul wajah yang mirip dengan wajah manusia tepatnya di pelepahnya. Pohon pinang tersebut tumbuh halaman seorang warga yang bernama Rahman yang terletak di daerah Jembatan Tengah.

Menurut saksi mata dan warga sekitar menyatakan jika wajah yang terdapat pada pelepah pohon pinang tersebut setiap hari bisa berubah ubah bentuknya. Bahkan pada tanggal 23 September 2010 wajah manusia yang nampak pada pohon pinang tersebut sudah mulai nampak jelas bentuk matanya dan mulutnya. Menurut Rahman tuan rumah pemilik pohon pinang tersebut, malam hari sebelum munculnya wajah tersebut dia mendengar suara seperti tangisan dari arah pohon pinang, dan keesokan harinya muncul wajah di pelepah pinang tersebut.

Menurut Pak Abdul Jalil seorang paranormal yang tinggal di kawasan Kanakea Bau-Bau yang sempat kami temui menyatakan bahwa wajah yang muncul pada pohon pinang tersebut adalah perwujudan dari jin yang telah sengaja “dibuang” oleh seseorang pada pohon pinang itu. Sejak penampakan wajah pada pohon pinang itu kawasan Jembatan Tengah, selalu dipadati warga yang ingin menonton pohon pinang itu. Hingga beberapa polisi nampak menjaga kawasan tersebut. Tak ketinggalan pula foto-foto wajah pada pohon pinang juga diperjualbelikan di sekitar lokasi. Untuk melihat ke lokasi warga membayar karcis masuk Rp 1000 per orang.

Fenomena alam yang cukup unik telah terjadi di kota Bau-Bau Sulawesi Tenggara sejak tanggal 21 September 2010 lalu. Sebuah pohon pinang muncul wajah yang mirip dengan wajah manusia. Pohon pinang tersebut tumbuh halaman seorang warga yang terletak di daerah Jembatan Tengah.

Menurut saksi mata dan warga sekitar menyatakan jika wajah yang terdapat pada pohon pinang tersebut setiap hari bisa berubah-ubah bentuknya. Bahkan pada tanggal 23 September 2010 wajah manusia yang nampak pada pohon pinang tersebut sudah mulai nampak jelas bentuk matanya dan mulutnya.

Menurut Pak Abdul Jalil seorang spiritualis yang tinggal di kawasan Kanakea Bau-Bau yang sempat kami temui menyatakan bahwa wajah yang muncul pada pohon pinang tersebut adalah perwujudan dari jin yang telah sengaja “dibuang” oleh seseorang pada pohon pinang itu.

Sejak penampakan wajah pada pohon pinang itu kawasan Jembatan Tengah, selalu dipadati warga yang ingin menonton pohon pinang itu. Hingga beberapa polisi nampak menjaga kawasan tersebut. Tak ketinggalan pula foto-foto wajah pada pohon pinang juga diperjualbelikan di sekitar lokasi.

Referensi : http://ruanghati.com/2010/09/25/heboh-ditemukan-pohon-pinang-berwajah-manusia-tiap-hari-berubah/ dan http://www.blogwarta.com/hot-news/fenomena-pohon-pinang-berwajah-manusia-di-bau-bau-sulawesi-tenggara/

 

analisis :

Fenomena alam 2011 dimulai pada hari ini, dimana di Jogjakarta di temui adanya hallo matahari atau matahari cincin, dimana foto halo matahari ini bisa kita lihat di facebook karena banyak sekali warga jogja yang menyaksikan peristiwa tersebut dan mengabadikannya dengan kamera. Fenomena hallo matahari jogja ini terjadi hari ini selasa siang sekitar pukul 11.15 WIB hal ini disebut antusias leh warga dimana mereka ramai – ramai ke luar rumah, untuk melihat penampakan matahari cincin yang tak seperti biasa ini. halo matahari menggambarkan dimana matahari yang bersinar terik seperti dikelilingi cincin pelangi.

Fenomena itu dikenal dengan nama halo matahari. Meurut keterangan warga mereka bisa menyaksikan fenomena alam 2011 ini yakni matahari cincin ini 15 menit. Soal apakah halo matahari bisa jadi petanda becana, heru menegaskan tidak “halo matahari fenomena alam biasa tidak ada hubungannya dengan bencana alam gempa misalnya demikian juga dengan awan cirus tak ada kaitannya”. Sebelumnya pada kamis 21 oktober 2010 terjadi fenomena halo matahari di atas kota padang sumatera barat, sebagian besar wargalalu mengaitkan fenomena ini dengan gempa besar sebagian warga cemas.

Fenomena mengenai matahai ini mengingatkan kita akan matahari kembar atau matahari 4 di china beberapa waktu yang lalu di mana fenomena ini juga banyak di lihat masyarakat berikut ini foto halo matahari jogja yang terjadi.

Merupakan fenomena optik yang menampilkan bentuk cincin di sekitar sumber matahari (seperti berbentuk mata/optik) dan disekitarnya ada warna-warni seperti pelangi, terjadi lagi di kota Pontianak ibukota propinsi Kalimantan Barat, tepatnya hari Jum’at tanggal 11 Juni 2010 antara jam 09:30 – 11:30 wib.

Fenomena halo (lingkaran cahaya) alam seperti ini, sebelumnya juga pernah/sering terjadi di berbagai daerah dibelahan bumi ini, seperti di Bandung dan Jakarta, terjadi pada tanggal 27 September 2007 (info disini); di Sumatra Barat, tanggal 30 September 2009, setelah peristiwa gempa, fenomena optik ini berlangsung selama 2 minggu, dan diwaktu malam juga terjadi bulan purnama dengan cincinnya; di Tawau dan Pahang Malaysia juga pernah terjadi pada tahun 2008; di German pada tanggal 12 Desember 2004 terjadi fenomena “Halo” Bulan; bahkan fenomena halo Matahari ini sering juga terjadi di benua Eropa dan Amerika, 2 kali dalam seminggu.

Referensi : http://www.sugeng.web.id/2011/01/halo-matahari-matahi-cincin-yogya.html dan http://wahanapress.net/2010/06/12/kupas-tuntas-fenomena-halo-matahari/

 

Calendar

September 2016
M T W T F S S
« Jul    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

My Twitter

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.